//
you're reading...
Latest HIV-AIDS News

Pikiran Rakyat

Saat AIDS Merambah Perkampungan

NANDY (23), bukan nama sebenarnya, baru saja bangun dari tidurnya saat ditemui di rumah orang tuanya di pinggiran Kab. Bandung bagian timur, Selasa (27/11) siang. Tayangan sinetron komedi ditontonnya dengan setengah hati sembari merokok dan minum kopi. Tetangganya, Abuy (26), juga bukan nama sebenarnya, kemudian datang dan ikut menonton televisi.

SEORANG staf Harm Reduction (HR) Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) mengumpulkan jarum suntik bekas untuk dimusnahkan, Selasa (27/11) lalu.*DENI YUDIAWAN/”PR”

Wajah Abuy terlihat lebih cerah dibandingkan dengan Nandy. Dalam perbincangan mereka saat itu, Abuy mengaku baru seminggu lalu menggunakan putaw di rumah saudaranya di Kota Bandung. Sementara Nandy terakhir kali menggunakan putaw tiga bulan lalu. Randy memang tak seberuntung Abuy. Jika Abuy sering mendapat ”barang” secara gratis dari saudaranya, nasib sial justru dialami Randy yang harus berurusan dengan polisi saat pakau (pakai putaw). Ia pun harus meringkuk selama seminggu di ruang tahanan polisi.

”Saya ketiduran di rumah BD (bandar-red.) bersama tiga teman lain setelah pakau. BD itu memang telah lama jadi TO (target operasi) polisi. Saat jam tiga pagi, kita digerebek polisi berpakaian preman,” kata Randy sembari menerawang.

Kejadian itu merupakan kali ketiga dia berurusan dengan polisi meski tak sampai ke meja hijau. Kini, Randy juga mengaku sangat ”parno” (paranoid) jika melihat polisi, kapan pun dan di mana pun.

Randy dan Abuy adalah pengguna narkoba jarum suntik (penasun) yang bersifat on-off. Telah delapan tahun lebih mereka tergantung pada barang haram itu. Meski tak seaktif dahulu, mereka tetap masih mengaku kangen terhadap putaw.

”Kegiatan” menyuntikkan bubuk putih yang dicampur air ke balik kulit serta perasaan ”melayang” setelah campuran itu mengalir dalam darah adalah sesuatu yang tak dapat dilupakan.

”Sepeda motor, perhiasan orang tua, hingga sertifikat rumah pernah diembat buat beli ’barang’. Capek sih. Kasihan juga orang tua dan ingin berhenti. Tapi, kalau lihat ’barang’ di depan mata pasti mau pakai lagi,” kata Randy.

Kalaupun berhenti menggunakan putaw saat ini, semata-mata karena sulitnya mendapat ”barang”. Razia polisi dan penangkapan sejumlah BD (bandar) telah membuat putaw semakin sulit didapat. Kalaupun ada, harganya melambung tinggi.

Randy dan Abuy bukan tidak tahu risiko penularan HIV-AIDS lewat pemakaian jarum suntik. Randy bahkan pernah melakukan VCT (Voluntary Counseling and Testing), atau tes HIV sukarela untuk menjawab rasa penasarannya terhadap ancaman virus mematikan itu. Untungnya, hasil tes menunjukkan dia negatif HIV.

**

PENASUN adalah kalangan yang paling rentan terinfeksi HIV-AIDS.

Data dari Persatuan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) mencatat, HIV-AIDS paling banyak ditularkan melalui jarum suntik, dibandingkan dengan cara lainnya.

Para penasun di wilayah Kab. Bandung selama ini sering luput dari perhatian pemerintah, termasuk para aktivis HIV-AIDS. Meski tak seramai di Kota Bandung, para penasun di pinggiran kota hingga perkampungan ini tak kalah banyak jumlahnya. Mereka tersebar di beberapa wilayah, mulai dari Ciwidey, Soreang, Katapang, Margahayu, Majalaya, Dayeuhkolot, Baleendah, Pangalengan, Banjaran, Rancaekek, hingga Cicalengka.

Data Komisi Peduli AIDS (KPA) Kab. Bandung mencatat, rentang April 2006 hingga Agustus 2007 tercatat 45 kasus baru HIV-AIDS di Kab. Bandung. Dari jumlah itu, sepuluh orang telah meninggal dunia, semuanya adalah penasun!

Kebanyakan penasun di perkampungan ini bergantung pada seorang penanggung dana (biasanya orang kaya di kampungnya). Biasanya, penanggung dana itu mengajak para pemuda lain untuk menemaninya pakau. Kalau penanggung dana itu tak ada, para penasun beramai-ramai mengumpulkan uang (udunan) untuk membeli putaw dan dipakai beramai-ramai.

Nandi Yusuf Aryanto (23) adalah salah seorang relawan Harm Reduction (HR) PKBI Jabar atau program pengurangan dampak buruk narkoba. Nandi yang juga mantan pecandu putaw itu adalah salah seorang petugas lapangan yang kini menjangkau wilayah Kab. Bandung.

Ia merelakan sebagian rumah tinggalnya dijadikan sebagai tempat berkumpul para penasun di Bandung Timur. Ia juga tak bosan mengampanyekan bahaya HIV-AIDS serta berbagai cara untuk menghindarinya kepada para penasun.

Menurut dia, banyak sekali temannya yang aktif pakau namun tak diketahui kedua orang tuanya. Selama ini, orang tua mereka hanya menganggap anaknya kecanduan minuman alkohol. Faktor ketidaktahuan dan keterbatasan informasi adalah sumber masalah yang biasa ditemui di perkampungan.

Karakteristik sikap penasun yang paling mencolok adalah tertutup, sangat sensitif, paranoid bila bertemu dengan orang di luar kelompoknya, kleptomania, arogan, dan pintar berbohong. Sejak dilakukan pendampingan oleh Nandi, sikap itu kemudian menjadi lebih cair. Para penasun di kampung itu pun menjadi lebih terbuka. Termasuk, terbuka menerima informasi tentang risiko HIV-AIDS yang membayangi mereka. (Deni Yudiawan/”PR”)***

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: