//
you're reading...
Testimonial

Pernikahan bukan solusi baginya

Tatto itulah yang jadi ciri khas perempuan satu ini. Sejuta pertanyaan akan muncul ketika melihatnya, bagaimana mungkin dari wajah manis dan berkesan lugu itu melukis tubuhnya dengan guratan warna dan darah, apakah dia tidak merasa kesakitan ketika dia mengukir tubuhnya, dan masih banyak lagi pertanyaan yang akan ditujukan padanya. Dan jawabannya hanya satu hidupnya jauh lebih menyakitkan dan lebih hitam dibandingkan dengan guratan tattonya.

Dwitya yang biasa dipanggil tya lahir dalam keluarga berada yang kurang harmonis, yang akhirnya menyebabkan dia sebatang kara setelah ayahnya pergi entah kemana dan ibunya meninggal dunia karenanya. Umurnya yang terbilang muda dan labil membawa tya dalam pergaulan dan lingkungan yang keras, narkoba menjadi jalan pintas baginya dalam upaya pencarian jati diri yang tidak juga dia mengerti dimana ujungnya. Tapak-tapak kecil di gelapnya peredaran narkoba mempertemukannya dengan seorang pria yang akhirnya mempersuntingnya.

Pernikahan bukanlah membawa sebuah solusi baginya, pernikahannya justru lebih menjerumuskan dirinya dalam kubangan narkoba. Pria yang dinikahinya adalah seorang bandar putaw, dari mulai penangkapan pihak kepolisian sampai kekerasan dalam rumah tangga harus dia hadapi dengan kedewasaan yang belum waktunya. Masihkah kita akan mempertanyakan rasa sakit ketika ditatto? Masihkah kita akan mempertanyakan kenapa, apa dan mengapa? Ketika airmatanya saja tak mampu untuk mengbasuh lukanya, ketika senyuman bocah kecil buah hatinya tak lagi dapat menentramkan jiwanya. Masihkah kita akan mempertanyakan?!! Lihatlah dirinya yang seakan tiap guratan warna dikulit tubuhnya melukiskan warna-warni hidupnya yang kelam.

Hari ini dia, seorang perempuan bernama Dwitya berdiri didepan mimbar dihadapan orang-orang yang dulu pernah mencekamnya, menjauhinya, menghujatnya dengan seribu pertanyaan mengenai moral yang tak pernah bercermin cukup bermoralkah mereka untuk mempertanyakan moral. Tya dengan suara lantang menyuarakan hatinya kepada masyarakat luas, berharap pengertian, perlindungan dan dukungan atas apa yang mereka sebut moral, memberi kesadaran pada masyarakat bahwa dia hanyalah salah satu korban dari ribuan anak muda di dunia ini.

Hari ini masih dengan wajah manis dan keluguan yang sama namun dengan ketegasan dan tanpa keraguan dia berbagi pada dunia tentang kisahnya dan perjuangannya dalam upaya melawan kecanduannya dan melangkah lebih pasti bersama masyarakat dalam menanggulangi permasalan narkoba dan hiv/aids agar tidak ada lagi generasi muda yang merasakan apa yang telah dialaminya.

“Tya, diceritakan oleh Yustinus”

Advertisements

Discussion

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: